14/09/2015

Lecture Notes #3 - Sekilas Tentang Manajemen Operasional

#recycledpost #throwbackSept2011

Hari ini saya bertatap muka dengan yang namanya Manajemen Operasional. Pelajaran ini penting karena kita diajar untuk berpikir, setiap kali masuk ke tempat apapun (baik restoran, rumah sakit, dsb), mengenai operasi bisnis tersebut (apakah karyawannya kelebihan, apakah meja harus ditaruh di sana, apakah begini, begitu), pokoknya tentang bagaimana caranya agar sebuah bisnis bisa berjalan lebih efisien. Berikut cuplikannya:

Zaman dulu kedua mata kuliah ini hadir terpisah: Manajemen Produksi dan Manajemen Operasi. Persamaannya? Yapp, dua-duanya sama-sama manajemen (berkaitan dengan POLC = Planning, Organizing, Leading, dan Controlling). Perbedaannya terletak pada outputnya. Kalau output dari MP adalah barang, maka output dari MO adalah jasa. Tapi itu dulu. Textbook sekarang, baik itu barang ataupun jasa, sama-sama memakai istilah MO.

Sebenarnya apa perbedaan antara produksi dan operasi? Produksi adalah penciptaan barang atau jasa, sedangkan operasi adalah aktivitasnya. Kalau mau dijabarkan, operasi adalah serangkaian (1) aktivitas yang memberikan nilai/value dalam menciptakan (2) barang dan jasa melalui pengubahan (3) input menjadi output. Nah...
  1. Value yang muncul ini diperuntukkan bagi stakeholders, terutama adalah customers. Rumus value adalah benefit dibagi dengan cost. Jadinya supaya bernilai (value-nya tinggi), manfaat harus tinggi dan biaya harus rendah.
  2. Harus dirinci dulu segmen pasarnya siapa, untuk kemudian diteliti lagi kebutuhan (need) untuk target pasarnya apa, baru deh bisa menciptakan barang dan jasa yang tepat.
  3. Kalau yang ini, pasti teman-teman udah sering dengar: INPUT - PROCESS - OUTPUT. Output bisa berupa barang, jasa, atau barang yang dibungkus jasa (kayak misalnya di bengkel jualan pelek + dipasangin pelek tersebut). Industri sekarang sudah bergeser dari manufaktur ke jasa (kira-kira jasa 64% dari industri global, 20-an% manufaktur, dan yang ketiga agrobisnis). Kaya misalnya di A.S. udah nggak punya manufaktur, adanya di Mexico sekarang (tenaga kerja di sana murah). Tapi textbook MO yang khusus ngebahas jasa masih sedikit, soalnya wujudnya intangible jadi sulit diungkapkan.

Nyatanya, MO mempengaruhi kemampuan perusahaan maupun kemampuan bangsa untuk bersaing. Namun Indonesia tampaknya masih belum mampu bersaing, secara global, meski ada peningkatan. Berdasarkan competitiveness index, pada tahun 2008 Indo ada di urutan ke-55; tahun berikutnya di urutan ke-54, dan pada tahun 2010 melesat menjadi 44. Tapi angka itu belum patut dibanggakan, pasalnya Indo masih kalah bersaing dengan negara-negara kecil di Asia, semisal Vietnam.

Kalau mau dibilang, kita ini sekarang adanya di era knowledge-based economy. Era ini mementahkan anggapan tradisional bahwa daya saing suatu negara ditentukan oleh kekayaan alam, tenang kerja, serta modal negara tersebut. Zaman sekarang ini, ekonomi sangat dipengaruhi oleh kemampuan negara untuk mengelola knowledge, yang mana hal ini bisa diukur dari sistem pendidikan, sistem kesehatan, serta research (karena yang mampu melakukan riset yang bisa memberi solusi bagi negara adalah mereka yang berpendidikan) negara tersebut. Bayangkan, index pendidikan di Indonesia hanya sebesar 16.4%. Di Malaysia sudah lebih dari 60%, sedangkan di Korea sudah mencapai angka 98% (berarti nyaris semua warganya melek pendidikan). Ngomong-ngomong pendidikan, universitas negeri sekarang sudah terlalu nggak efisien karena karyawannya terlalu banyak dan pemerintah bukannya pohon uang, jadi nggak heran kalau sekarang mau masuk univ negeri aja uang sumbangannya sampai puluhan juta per semester.

Nah, karena knowledge itu begitu penting, institusi pendidikan harus mampu mentransfer knowledge yang ada di kepala dosen ke kepala mahasiswa. Transfer knowledge yang baik akan memicu kreativitas yang mendorong terjadinya inovasi yang membuat sebuah perusahaan atau negara berbeda sehingga daya saing juga meningkat.

Kemudian, di dalam MO ada empat prinsip yang penting (seperti 4P-nya pemasaran), yakni cost, quality, delivery, dan flexibility. Bagaimana caranya membuat barang berkualitas tinggi tapi tetap biaya rendah? Tentunya kualitas tinggi itu harus didefinisikan dulu. Karena untuk sebagian orang, asalkan produk yang dihasilkan bisa memenuhi kebutuhannya dan membuatnya merasa puas, maka kualitas produk tersebut sudah dia anggap baik. Maka perlu ada riset untuk menentukan standard kualitas produk. Yang kedua, tentunya dengan menimalisasi biaya atau efisiensi dalam segala hal, misalnya memotong proses yang tidak perlu, menggunakan teknologi yang lebih canggih sehingga bisa memotong jumlah karyawan, dsb. Untuk delivery, tentunya harus dilakukan secara on time dan untukflexibility sangat berkaitan erat dengan masalah penjadwalan.




MO juga berkaitan erat dengan SCM atau Supply Chain Management. Sekarang tuh, orang-orang sudah menganggap dunia ini datar (era ketiga). Globalisasi (era kedua) dan dunia bulat (era pertama) sudah lewat. Jadi kalau kita perhatikan, supplier tidak hanya memasok bahan baku ke perusahaan X doank, tapi juga ke perusahaan W, Y, Z, dsb. Persoalannya adalah bagaimana caranya agar supplier lebih berpihak kepada kita (ceritanya si "X"). Distributor juga sama aja. Ternyata distributor yang kita pakai, juga dipakai sama Y misalnya. Lalu, kalau kemudian menjadi terintegrasi, harus memperhatikan juga apakah supplier bisa dipercaya atau tidak karena database kita menjadit terbuka. 


Indofood adalah salah satu contoh perusahaan yang berhasil menerapkan SCM dan akhirnya ia mampu menjual mie-nya dengan harga termurah sedunia... se-DUNIA, lhoo... Supplier Indofood dari PT apa gitu, hehe, tadinya bukan punya Indofood, tapi terus dibeli sama Indofood. Salah satu alasannya biar supplier itu nggak memasok bahan baku ke perusahaan-perusahaan saingan lainnya. Bukan cuma supplier aja, tapi Indofood juga menaungi Indomaret sebagai distributor-nya. Intinya sih, mau bilang, SCM itu penting. Karenanya, perusahaan harus bisa membuat supplier percaya sama perusahaan tersebut, misalnya dengan membayar kredit tepat waktu. 


EmoticonEmoticon