Showing posts with label DIY: Strategi. Show all posts
Showing posts with label DIY: Strategi. Show all posts

16/07/2016

Indeks "DIY: STRATEGI" - Daftar Semua Post di Kategori "DIY: STRATEGI"


Kembali ke Master Index

DIY: STRATEGI
#1Seperti Apa Mekanisme Arisan?Baca di Sini
#2Pengalaman Menjadi Panitia SeminarBaca di Sini
#3Tiga Cara Melatih Kreativitas: Karena Hari Gini Wajib Kreatip!Baca di Sini
#4Sembilan Macam Sumber Resiko Bisnis AndaBaca di Sini
#5Membaca "WOW Marketing": Buku tentang Pemasaran di Masa KiniBaca di Sini
#6Mempelajari 75 Teknik Penjualan dari "The Ultimate Book of Sales Techniques"Baca di Sini
#7Sembilan Cara Meningkatkan Pengunjung MuseumBaca di Sini

DIY: Strategi #7 - Sembilan Cara Meningkatkan Pengunjung Museum

Suatu ketika adik saya mendapat tugas mengerjakan sebuah case study dari dosennya. Studi kasus itu diambil dari sebuah buku pelajaran berbahasa asing, mengisahkan tentang sebuah museum di Helsinki, Finlandia, yang bernama Museum of Art and Design. Museum ini ternyata sangat ramai dikunjungi orang, menjadikannya salah satu dari 5 museum di Finlandia (dari total 1000 museum yang ada) yang sukses mencatatkan lebih dari 100.000 orang pengunjung. 

Artikelnya nggak panjang, tapi waktu baca itu, saya malah dapat wawasan baru seputar strategi yang mereka gunakan untuk menarik banyak pengunjung ke sana. Berikut saya coba tuliskan garis besarnya secara singkat dalam beberapa poin, siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk museum-museum di Indonesia yang nggak terlalu populer dikunjungi orang.
Ilustrasi karya seni - sepeda dari serial "Winata Sonata" di Pulau Nami, Korea Selatan.

Sedikit Background tentang Museum Ini:

MUSEUM OF ART AND DESIGN merupakan museum kecil milik swasta yang terletak di pusat Helsinki. Museum yang memiliki spesialisasi "design and industrial art" ini menempati sebuah bangunan abad ke-19 berlantai tiga yang dulunya digunakan sebagai sekolah. Ditemukan di awal abad ke-20 dimana tujuan awalnya adalah untuk mendidik masyarakat mengenai desain. Sempat fokus di desain khas Finlandia, tapi belakang ini semakin melihat ke luar dan seringkali mengadakan pameran internasional. Museum ini dimiliki secara pribadi oleh sebuah yayasan, tapi menerima 60% dananya dari pendanaan pemerintah. 40% sisanya berasal dari pendapatan operasional. Museum ini mengambil tema yang menjembatani masa lalu dan masa depan. Pelanggannya terdiri dari orang desain profesional dan orang awam. Pesaing utama museum adalah museum-museum yang terspesialisasi seperti Design Forum, the University of Design Museum, dan the Finnish National Museum.


Sejumlah Strategi yang Digunakan oleh Museum Ini:

1. Seperti yang telah disebutkan di atas, meski awalnya sempat fokus di desain khas Finlandia, tapi belakangan ini semakin melihat ke luar dan seringkali mengadakan pameran internasional. Misalnya, pernah di saat musim semi, museum ini mendatangkan Dalai Lama ke Finlandia untuk sebuah pameran Tibet yang besar.
2. Museum ini mengadakan pameran untuk koleksinya sendiri, serta juga mengadakan pameran bagi museum lain, baik itu museum asing maupun museum di Finlandia. Museum ini mengupayakan tiga atau empat pameran besar dalam setahun di samping menyediakan ruang bagi sejumlah pameran yang lebih kecil dan koleksi pribadinya sendiri.
3. Ada juga kafe pribadi dan toko souvenir yang dimiliki oleh yayasan museum.
4. Meningkatnya penekanan akan sisi kultural semakin menarik minat pengunjung yang lebih luas (sebelumnya pengunjung tipikalnya merupakan wanita paruh baya).
5. Melakukan renovasi yang signifikan pada bangunan.

6. Museum ini dulunya tidak pernah memiliki staff PR (public relations). Kemudian managing director yang baru memperkerjakan seorang manajer komunikasi. Iklan yang dibuat di sebuah tahun saja = jumlah iklan yang pernah dibuat selama 20 tahun terakhir. Ini menunjukkan upaya untuk meningkatkan visibilitas museum.
7. Pendapatan museum berasal dari penjualan tiket masuk, cafe, toko cinderamata, dan berbagai event lainnya yang diadakan oleh museum sehubungan dengan pameran yang diadakan. Misalnya, ketika mengadakan pameran tentang anggur (wine), museum ini juga memberikan mata kuliah seputar anggur dan acara mencicipi anggur di sore hari.
8. Museum ini memiliki sebuah perhimpunan tertutup bernama Friends of the Museum yang menyediakan dana bagi museum untuk membeli lebih banyak benda untuk menambah koleksi pribadinya.
9. Melakukan audit yang disebut dengan walk-through audit atau WtA. Audit dilaksanakan oleh sebuah tim mahasiswa MBA dari Helsinki School of Economics and Business Administration. WtA adalah sebuah survei berbentuk kuesioner yang dipakai untuk mengevaluasi sebuah jasa dari perspektif pengalaman pelanggan. Survei yang sama juga dibagikan kepada manager dan staff (suruh mereka isi seakan-akan mereka adalah pelanggan, selain juga mewawancarai mereka) untuk mengidentifikasi "celah" persepsi antara manager dan pelanggan. Hal-hal yang disurvei antara lain adalah mengenai:
  • Awareness akan pameran (pengunjung dapat info darimana soal pameran: apakah dari koran, majalah, radio, mulut ke mulut, dsb) >> yang paling efektif selanjutnya bisa jadi media yang okeh buat next time bikin iklan;
  • Informasi (apakah para staff museum telah menjadi sumber informasi yang baik bagi pengunjung dan apakah penjelasan dan informasi terkait barang-barang yag dipamerkan sudah jelas dan cukup tersedia bagi pelanggan);
  • Pengalaman (apakah pengunjung menyadari atau menghargai aspek/dimensi lain dalam pameran seperti musik, penataan koleksi, proses demonstrasi, interaksi dengan staff, dan hal-hal lainnya yang melibatkan panca indera);
  • Kebiasaan pengunjung (apakah pengunjung sering datang sendiri atau datang bersama orang lain, serta apakah pengunjung mengitari seluruh bagian pameran, baik itu pameran yang utama maupun koleksi yang dipajang secara permanen, ataukah hanya sejumlah bagian pameran saja yang menarik minatnya);
  • Fasilitas (makanan, pilihan merchandise, petunjuk arah, dan kebersihan toilet); serta
  • Bahasa (info dalam museum ini terutama disajikan dalam bahasa Finlandia dan Swedia; sehingga perlu mensurvei pelanggan apakah mereka adalah native speaker atau bukan, baik saat musim biasa atau musim liburan, guna mengetahui apakah bahasa adalah masalah besar bagi museum ini)

Source of Inspiration:
Buku "Service Management: Operations, Strategy, Information Technology" - Bab 6 - Case 6.3 (Fitzsimmons, J.A., dan Fitzsimmons, M.J.).

DIY Strategi #6 - Mempelajari 75 Teknik Penjualan dari "The Ultimate Book of Sales Techniques"


Jadi... mulailah saya menjalankan salah satu bucket list saya di tahun 2016 ini: membaca setidaknya 52 buku. Dan buku inilah yang pertama kali saya selesaikan di tahun yang baru ini, yaitu "The Ultimate Book of Sales Techniques: 75 Ways to Master Cold Calling, Sharpen Your Unique Selling Proposition, and Close the Sale".




Penulisnya adalah Stephan Schiffman, yang sudah menuliskan puluhan buku tentang penjualan dan merupakan seorang motivator sekaligus pelatih sales. Penerbitnya adalah Adams Media (2013). Tebalnya 219 halaman (termasuk daftar isi, intro, isi, kesimpulan, lampiran, dan indeks), dimana "isi bersihnya" yaitu berada dari halaman 19 -185. Buku ini ditulis dalam bahasa Inggris.




Singkat cerita, tangan ini jadi gatel untuk ambil buku ini dari rak perpus kantor setelah tergiur melihat judulnya, mengingat buku ini cukup relevan dengan rotasi pekerjaan terbaru saya yang nggak jauh-jauh dari sales. Cihuy.




Ada 5 bagian dalam buku ini. Totalnya terdiri dari 75 bab singkat (@1-4 halaman) dengan topiknya masing-masing. Yang diulas cukup lengkap, yaitu aneka tantangan dan sikon yang jadi menu sehari-harinya salesman, termasuk juga contoh kesalahan yang kerap dibuat oleh para penjualwan dan penjualwati. Bacanya enak dan cepat gitu karena pendek-pendek dan jadi bisa dicicil pas senggang tanpa perlu potong tengah-tengah bab. Selain itu, alur bab dan gaya bahasanya juga asik, ngalirlah poko'e.




Buku ini membagikan filosofi dan pola pikir yang I think penting dimiliki para penjual (dari awal sampai akhir, ada benang merahnya kerasa gitu). Banyak teknik dan tips juga yang jadi nongol di kepala saat duduk di kantor atau ketemu orang. Hampir semua babnya, menurut saya sangat practical dan dapat diterapkan, meski untuk sejumlah bab, I wonder sih apakah applicable jika dijalankan di Indo, mengingat buku ini diterbitkan di Amrik dan ditulis oleh seorang bule yang jelas ada beda budaya dengan kita.




Anyway, kalau Anda lagi cari buku tentang cara menjual atau sales, yang satu ini recommended deeh. Banyak yang bisa dipelajari sehingga waktu yang terpakai untuk membaca buku ini nggak berlalu sia-sia. Selamat membaca!

DIY: Strategi #5 - Membaca "WOW Marketing": Buku Tentang Pemasaran di Masa Kini

sumber gambar: Google.co.id

Kalau Anda mengetik kata “Hermawan” di kotak persegi panjang mesin pencari Google, maka nama “Hermawan Kartajaya” akan langsung muncul di daftar sugesti. Jika dibuka dari desktop, pada sisi kanan juga nampak profile singkat beliau yang disadur dari Wikipedia, yaitu merupakan President of World Marketing Assoction dan co-founder dari Asia Marketing Federation. Sebagai mantan mahasiswi ekonomi, nama beliau yang adalah pakar pemasaran Indonesia tidak asing di telinga saya karena kerap muncul baik in-class saat kuliah atau ketika perlu cari bahan untuk mengerjakan tugas kuliah.



Naah, hari itu saya ingin meminjam 2 buah buku dari perpus kantor. Satu buku sudah di tangan (baca di sini), tinggal satu buku lagi. ~mmm…, ada buku yang cover-nya minimalis dan judulnya tampak menarik dengan huruf-huruf besarnya yang bertuliskan “WOW Marketing”. Okaiii, pinjam yang ini saja deh. Daaan, eng ing eng, begitu sampai rumah dan mulai fokus baca, baru sadar bahwa salah satu penulisnya adalah Bpk. Hermawan Kartajaya. Eeh, jadi ingat deng: Baru saja beberapa hari sebelumnya saya nonton beliau sekilas di tv dimana di acara tersebut Pak Hermawan juga bicara seputar WOW Marketing (saya ingat karena presenternya berkali-kali bilang: jadi harus WOW ya Pak…!).



Buku ini ditulis oleh Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan dengan penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Yang saya baca adalah cetakan kedua (Juli 2014) yang periode cetaknya hanya berselang tiga bulan dari cetakan pertamanya. Tebalnya xxv halaman (Kata Pengantar, Tentang Penulis, Daftar Isi, dan Prologue) ditambah 235 halaman (yakni isi buku sebanyak 10 bab yang diakhiri dengan Epilogue). Meskipun tebalnya lebih dari 200 halaman, tapi ukuran hurufnya cukup besar, sehingga untuk menyelesaikan buku ini tidak selama yang terpikir.



Buku ini bicara tentang pemasaran di zaman kini, pemasaran yang relevan dengan zaman yang sudah berubah. Isinya antara lain tentang pergeseran power (Vertikal ke Horisontal, Eksklusif ke Inklusif, serta Individual ke Sosial), kemunculan kelompok minoritas yang kuat (anak muda, wanita, dan netizen), perubahan proses pembelian yang dilalui customer (dari 4A menjadi 5A), 5 tingkat ekspresi pelanggan (Boo hingga Wow!), dsb. Jelas zaman sudah berbeda sekali yaa… ada sejumlah elemen dan istilah yang tidak saya pelajari saat mengambil mata kuliah marketing dahulu.



Runtut pemikirannya logis >> ai duga sebagian orang mestinya sudah pernah terpikir (hanya saja tidak tertulis dan kurang merenungkan) akan sejumlah poin yang dibahas dalam buku tersebut (karena I think cukup umum dialami dan disadari oleh pengusaha saat ini). Namun tetap ada berbagai hal yang bisa dipetik untuk diterapkan serta seakan dipertegas dan diperjelas dalam kepala kita, jadi lebih mikir gitu (vs sebelum baca yang maybe hanya lewat sepintas lalu), misalnya aneka perubahan yang tadi disebutkan di atas dan fokus yang harus dikejar, pentingnya referral dan memainkan rasa penasaran, saran pemakaian iklan, tips dan trik untuk menghindari Boo dan mencapai Wow, dsb. On a side note, buku ini juga memuat ukuran rasio pemasaran baru yang, siapa tahu, bisa dijadikan acuan dalam membuat skripsi tentang pemasaran masa kini.

DIY: Strategi #4 - Sembilan Macam Sumber Resiko Bisnis Anda


Hidup memang penuh pilihan dan resiko. Tapi... sudah kenalkah Anda dengan sumber-sumber resiko yang mengelilingi bisnis Anda? Menurut Gitman (2006: 227, saya coba terjemahkan), ada 9 macam sumber resiko populer yang membawa dampak bagi para manajer keuangan dan pemegang saham:



A. Resiko yang secara spesifik berkaitan dengan perusahaan:

1. Resiko Bisnis: adanya kemungkinan bahwa perusahaan tidak mampu menutupi biaya operasionalnya. Tingkat resiko ini ditentukan oleh stabilitas pendapatan perusahaan serta struktur dari biaya operasionalnya (biaya tetap vs biaya variabel).

2. Resiko Finansial: adanya kemungkinan bahwa perusahaan tidak mampu menutupi kewajiban finansialnya. Tingkat resiko ini ditentukan oleh kemampuan untuk memprediksi arus kas operasional perusahaan serta kewajiban finansial yang berbiaya tetap.



B. Resiko yang secara spesifik berkaitan dengan pemegang saham:

3. Resiko Suku Bunga: adanya kemungkinan bahwa perubahan suku bunga akan membawa dampak yang merugikan terhadap nilai sebuah investasi. Kebanyakan investasi kehilangan nilainya ketika suku bunga meningkat dan mengalami peningkatan nilai ketika suku bunga jatuh.

4. Resiko Likuiditas: adanya kemungkinan bahwa invetasi tidak dapat dilikuidasi dengan mudah pada harga yang wajar. Likuditas sangat dipengaruhi oleh ukuran dan kedalaman pasar dimana investasi lazim diperdagangkan.

5. Resiko Pasar: adanya kemungkinan bahwa nilai sebuah investasi akan menurun karena faktor-faktor pasar yang tidak bergantung pada investasi tersebut (misalnya peristiwa-peristiwa ekonomi, politik, dan sosial). Pada umumnya, semakin nilai tertentu dari sebuah investasi meresponi pasar, semakin besar pula resikonya; semakin nilai investasi tersebut tidak memberi respon, semakin kecil resikonya.



C. Resiko perusahaan dan pemegang saham:

6. Resiko Peristiwa: adanya kemungkinan bahwa sebuah peristiwa yang benar-benar tidak diduga membawa dampak yang signfikan pada nilai perusahaan atau investasi tertentu. Kejadian-kejadian yang tidak sering terjadi ini, misalnya penarikan obat resep yang populer atas mandat pemerintah, biasanya mempengaruhi hanya sebagian kecil kelompok perusahaan atau investasi.

7. Resiko Nilai Tukar: exposure dari prediksi arus kas masa depan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang. Semakin besar kemungkinan terjadi fluktuasi nilai tukar yang tidak dikehendaki, semakin besar pula resiko dari arus kas, dan karenanya menurunkan nilai perusahaan atau investasi.

8. Resiko Daya Beli: adanya kemungkinan bahwa tingkat perubahan harga yang diakibatkan inflasi atau deflasi dalam ekonomi akan membawa dampak yang merugikan arus kas dan nilai investasi. Biasanya, perusahaan atau investasi yang arus kasnya bergerak sesuai dengan tingkat harga umum memiliki resiko daya beli yang rendah, sedangkan perusahaan atau investasi yang arus kasnya tidak bergerak sesuai dengan tingkat harga umum memiliki resiko daya beli yang tinggi.

9. Resiko Pajak: adanya kemungkinan terjadi perubahan dalam perundang-undangan pajak yang tidak menguntungkan (unfavorable). Perusahaan dan investasi yang nilainya sensitif terhadap perubahan perundang-undangan pajak memiliki resiko yang lebih besar.



Sumber: Gitman, L.J. (2006). Principles of Managerial Finance. (11th Edition). United States: Pearson Education, Inc.

DIY: Strategi #3 - Tiga Cara Melatih KREATIVITAS (´▽`) - c<ˇ εˇ): Karena Hari Gini Wajib Kreatip!

Karena nggak pingin lupa, saya tulis ini. Bermanfaat banget soalnya! Maklum otak kadang nggak sanggup kalau suatu waktu perlu rewind terlalu jauh ke belakang. Hehe.



Salah satu kantor tempat saya pernah magang belum lama ini mengadakan sebuah workshop seharian penuh dengan aneka aktivitas seru. Salah satu agendanya menghadirkan seorang bernama Rahaf Harfoush, seorang wanita inspiratif asal Perancis yang hari itu bicara sebagai founder dari organisasi 'think tank' temuannya yang bernama "Red Thread Inc.". Temanya tentang teknologi, inovasi dan kreativitas. Menarik, sangat menarik. Ada bagian yang 'nyantol' banget di kepala saya dan sekali lagi, karena nggak pingin lupa, saya tulis ini. ┌(_o_)┐

Zaman sekarang adalah eranya 'Architech' (wiiih, istilah baru nih, not architect alias arsitek loh; jadi kalau coba di-Indo-in: Arsitekno) - maksudnya banyak banget individu dan organisasi yang memberdayakan teknologi untuk mengembangkan produk/jasa secara inovatif dan memiliki nilai tambah. Contoh yang menarik: LearnVest (software pintar buat bantu kelola keuangan pribadi), Smarter Stand (cover tablet yang bisa ditekuk-tekuk) dan M-PESA Safaricom (jasa transfer duit pake hape di Kenya tanpa perlu punya akun bank dan handphone-nya bahkan nggak perlu yang canggih).

Semua ini tentunya lahir dari kreativitas. Eits, dilarang sedih. Kabar baiknya, kreativitas bisa dilatih loh. Hmm... ralat!! Bukan bisa dilatih, tapi tepatnya "perlu dibiasakan". Naaah... Harfoush sempet share tiga kebiasaan yang harus kita miliki supaya makin hari kita jadi makin kreatif, sebagai berikut:

1. Spot Opportunity (sadari kesempatan yang ada!): kita harus mencari sumber baru. Kita nggak akan menemukan inovasi kalau kita hanya baca hal-hal yang ada di lingkup industri kita. Misalnya Anda seorang koki dan rajin menggali hanya soal industri makanan. Itu baik, tapi ada yang lebih baik lagi kalau Anda mau dapat ide segar: melihat dan belajar hal-hal di luar industri makanan.

Contohnya Anda belajar dari para drug dealers atau jaringan narkoba! Wuah, terdengar nyimpang banget tapi banyak loh yang kita bisa pelajari dari mereka. Coba renungkan gimana mereka bisa sukses pasarin narkoba, manage risiko, atur harga jadi mahal, pertahanin customer, dsb. Bisnis besar itu!

2. How You Create Ideas and Connect Them to the Problem (selama ini gimana cara Anda menghasilkan ide dan menghubungkannya ke masalah yang ada): kita harus membuat serangkaian daftar ide, jangan cuma satu ide saja. Terlalu sering orang berhenti pada satu ide karena melihatnya sudah cukup baik untuk menjawab masalah yang ada. Selalu pikir lagi, dan keluarkan setidaknya lima buah ide, kemudian vote mana yang terbaik.

Contoh yang bisa diterapin untuk individu/kelompok supaya kaya akan ide: setiap hari kumpulkan bawahan Anda dan minta mereka untuk menuliskan 10 ide top dalam 2 menit - get your timer ready (misalnya tuliskan 10 hal yang bisa diperbaiki dalam divisi Anda). Topiknya bisa yang lebih santai juga, misalnya tuliskan 10 cara agar tetap segar setelah makan siang atau 10 cara mengurangi kemacetan. Awalnya pasti hanya ada sedikit orang yang bisa tulis 10 ide dalam 2 menit, tapi semakin sering dilakukan, semakin banyak orang yang sukses tulis 10 ide dalam 2 menit.

Contoh lain (ini saya pernah dengar dari pembicara lain): melakukan sesuatu dengan cara berbeda. Pembicara tersebut pernah suruh anaknya jalan kaki mundur ke sekolah. Wuaah, nekat! Tapi konsepnya boleh ditiru ini. Coba deh besok-besok ke kantor atau ke sekolah lewat jalan lain. Jangan-jangan ada jalan yang lebih cepat atau lebih aman daripada jalan yang Anda biasa lalui sekarang. Coba sikat gigi pakai tangan kiri. Coba buat tugas sambil berdiri (atau jongkok sekalian, heh) daripada duduk. Selalu cari cara baru, evaluasi dan bandingkan dengan cara sebelumnya, lalu terapkan yang paling efektif dan efisien. Pasti jadi kreatif kalau membiasakan mikir cara baru tiap hari.


3. How You Share Ideas (selama ini gimana cara Anda menyampaikan ide): ini juga harus dilatih. Kita harus berlatih menyampaikan pendapat (yes, ini bisa dilatih)! Jangan sampai di dalam kepala isinya seru banget, tapi tidak bisa komunikasikan ke orang. Selain itu, apakah Anda yakin bahwa selama ini orang memahami maksud yang Anda sampaikan? Ada caranya niih, jadi misalnya tiap hari kita kumpul, lalu wajibkan setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Setiap satu orang selesai menyampaikan opininya, suruh semua orang lainnya dalam kelompok itu untuk tulis ulang maksud omongan orang tersebut. That way, orang yang berbicara itu bisa baca dan renungkan apakah orang lain sebetulnya mengerti maksud omongannya.

Oh ya, satu lagi! Kita juga perlu belajar cara kasih feedback. Setiap kali ada pendapat orang yang nggak sesuai sama pendapat kita, jangan sanggah pake kata "TAPI", sebaliknya pakailah kata "IYA, DAN...". Memakai kata "DAN" akan mendorong seseorang untuk menambahkan kalimatnya dan mengembangkan idenya tersebut.

DIY: Strategi #2 - Pengalaman Menjadi Panitia Seminar

Pada bulan Oktober 2012 kampus saya mengadakan sebuah seminar pengembangan diri. Bersyukur banget, kali ini saya bisa terlibat sebagai panitia, bukan sebagai peserta seperti dulu-dulu. Yayy...!! Lumayan deh... Meski sebenarnya tugas saya memang tidak signifikan, tapi saya cukup senang kok, karena melalui dua rapat panitia yang saya hadiri serta setelah mengalami hari H-nya itu sendiri, paling nggak ada satu dua hal terkait masalah pelaksanaan seminar yang saya bisa pelajari.
Ilustrasi event
Pertama-tama, untuk hal-hal pokok seperti membuat tema, mengundang pembicara, membuat poster dan tiket, serta membooking ruangan sudah diatur oleh pihak kampus. Sisanya, kami para mahasiswa dikumpulkan jadi satu dalam sebuah rapat. Haha.. Tapi mengenai hal ini, ada sejumlah poin yang bisa saya garisbawahi:

1. Sambil menentukan tema, perlu dibuat target pesertanya juga. Kenapa? Supaya cara publikasinya bisa langsung kena sasaran. Misalnya: anak-anak semester akhir lebih suka seminar yang berbau karir. Sedangkan pada seminar tersebut, ternyata sekitar 95% peserta yang mendaftar adalah mahasiswa semester satu. Alasannya saya tidak yakin, tapi mungkin adalah salah satu dari hal-hal berikut: (1) Para freshmen suka hal yang berbau-bau pengembangan diri; (2) Mereka banyak waktu luang; (3) Karena ada iming-iming sertifikat gitu --> sebagai anak baru masih penuh semangat ngumpulin sertifikat, apapun hayo aja, asal ada sertifikatnya.. haha.. Nah, kalau sudah menentukan target (tentunya harus masuk akal bukan asal tentuin), lain kali publikasi bisa langsung datang ke kelas si mahasiswa, atau taruh di grup facebook mahasiswa baru, dsb.,

2. Buat juga target jumlah peserta dan disesuaikan dengan kapasitas ruangan. Ini memang penting, supaya kita bisa nge-track progress jumlah peserta yang sudah mendaftar, yang nantinya akan mempengaruhi cara publikasi atau promosi. Misalnya kapasitas ruangan 550. Dua minggu sebelum hari H, panitia menargetkan paling tidak 250 mahasiswa telah mendaftar dalam waktu satu minggu ke depan. Apabila setelah satu minggu, target tidak tercapai, perlu diteliti kenapa demikian, tapi biasanya sih mungkin karena publikasi kurang gencar.

3. Siapa pembicara yang diundang mempengaruhi minat mahasiswa untuk mendaftar. Menurut seorang teman, hal pertama yang ditanyakan teman-temannya ketika ada seminar adalah siapa pembicaranya. Kalau yang satu ini saya setuju. Semakin terkenal atau semakin banyak jam terbangnya semakin besar minat calon peserta untuk ikut. Pernah kampus saya mengundang seorang motivator terkenal dan dalam waktu sekejap, tiket ludes habis terbeli. Karena itu, kalau perlu berikan sedikit penjelasan tentang profil pembicara pada poster seminar.

4. Ada strategi promosi muncul di sini: beli 5 tiket gratis 1, dan ternyata ini memang menjadi daya tarik bagi sejumlah mahasiswa.

5. Nah, untuk kami para mahasiswa, masing-masing punya posnya sendiri-sendiri. Idealnya, anggota panitia adalah sebagai berikut:

a. On-the-spot ticketing: 3 orang (1 pegang uang, 1 tulis dan sobek tiket, dan 1 lagi harus yang galak untuk mendisiplinkan antrian yang sering membeludak dan berebutan karena takut kehabisan tiket).

b. Registrasi ulang/absen: 4 orang (tergantung jumlah yang mendaftar sih). Nama peserta disusun berdasarkan jurusan akan memudahkan panitia dibandingkan jika nama peserta disusun berdasarkan nomor induk. Jejerkan kertas-kertas berisi nama peserta tersebut, dimana pada kertas itu tertera kolom untuk tanda tangan, dan juga satu pulpen untuk setiap satu lembar kertas.

c. Pubdok: 3 orang (untuk publikasi seperti menempel poster, juga untuk foto-foto, dsb).

d. Perlengkapan: 2 orang (mengurusi sound system, laptop, juga berbagai perlengkapan yang dibutuhkan oleh masing-masing panitia lainnya seperti alat tulis, meja, kursi, dsb).

e. Konsumsi: 2 orang (menentukan konsumsi apa yang diberikan kepada peserta dimana jangan sampai peserta kecewa terutama jika mereka harus membayar seminar tersebut. juga mengurusi hal ini dari awal sampai selesai, mulai dari mencari penjual, tawar menawar harga, sampai masalah pesan antar ke lokasi seminar). Untuk seminar tersebut, kampus saya tidak mengambil untung, sih. Jadi seluruh uangnya memang didedikasikan untuk konsumsi.

f. Gatekeeper: 4 orang (tergantung jumlah peserta sih, fungsinya untuk menggeledah tas mahasiswa jangan sampai ada makanan atau minuman apabila takut mengotori lokasi seminar).

g. Usher: 3 orang (menunjukkan dimana mahasiswa harus duduk, misalnya mengarahkan supaya mereka memenuhi baris depan terlebih dahulu, juga menahan tiket mahasiswa yang keluar di tengah-tengah seminar, dimana apabila mereka tidak kembali ke ruang seminar, maka nama mereka akan dicoret dari daftar absen, sehingga mereka tidak berhak mendapatkan sertifikat).

h. Nah, apabila sudah menganggur, bisa saling bantu atau bertukar pekerjaan. Misalnya bagian absen membantu bagian konsumsi membagikan makanan di akhir seminar. Bagian ticketing membantu mengumpulkan kuesioner yang telah diisi mahasiswa seputar seminar, dsb.



Selain mempelajari hal-hal di atas, saya juga mendapat bonus berupa teman baru. Jadi saling bertukar pin, dan sampai hari ini masih sesekali ngobrol, meski seminarnya sudah berlalu. :)

DIY: Strategi #1 - Seperti Apa Mekanisme Arisan?

Source of picture: gramediapustakautama.com

Ketika membaca sebuah portal berita nasional pada bulan Februari 2013 yang silam, saya menemukan berita soal arisan yang mendadak jadi nge-hip dengan terbitnya buku "Kocok! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites" yang ditulis oleh presenter Nadya Mulya dan salah seorang rekannya Joy Roesma. Sejak kecil istilah ini memang wara-wiri di telinga saya, tapi karena saya tidak pernah ikut arisan dan saya juga tidak terlalu punya interest untuk mengulik isu ini, saya pun memahami arisan sebagai tempat kumpul ibu-ibu berduit untuk bergosip sambil mengambil undian uang secara bergilir.


Tapi dengan kembali bergulirnya wacana seputar arisan, saya pun menjadi sedikit penasaran dan menyempatkan diri untuk bertanya kepada Ayah saya yang sewaktu muda pernah menjadi anggota arisan (that's right,arisan bukan hanya milik wanita! *tiba-tiba keinget Tora Sudiro di film Arisan). Beliau menjabarkan sistem salah satu geng arisan yang pernah diikutinya. Menurut Ayah saya, secara umum memang ada beberapa sistem arisan pada era tersebut (tahun 80-an), lalu beliau menjelaskan salah satunya secara khusus kepada saya. Berikut mekanisme arisan:

Fungsi arisan adalah untuk meminjamkan uang. Sebut saja arisan X memiliki sebelas orang anggota. Kemudian atas persetujuan semua anggota, ditunjuklah seorang kepala, misalnya Pak Aris. Ditetapkan juga iuran bulanan yang harus dibayar anggota per bulan, misalnya Rp 1 juta.


Pada pertemuan pertama, semua anggota kecuali Pak Aris diwajibkan membayar Rp 1 juta dan "meminjamkannya" kepada Pak Aris untuk boleh ia gunakan secara pribadi. Jadi dari sepuluh anggota arisan X yang ada selain Pak Aris, Pak Aris menerima total uang sebesar Rp 10 juta.


Pada bulan kedua, setiap anggota yang membutuhkan pinjaman uang akan mengajukan berapa nominal uang yang bisa ia tawarkan. Penawaran tertinggi akan mendapat jatah arisan bulan itu. Misalnya Pak B mengajukan Rp 110 ribu, Pak C mengajukan Rp 100 ribu, dan Pak D mengajukan Rp 120 ribu. Maka Pak D-lah (tertinggi) yang mendapat jatah arisan bulan itu.


Berapa besar uang yang diterima Pak D? Karena Pak D mengajukan Rp 120 ribu, maka masing-masing anggota (kecuali Pak D) cukup membayar Rp 880 ribu (didapat dari selisih iuran bulanan sebesar Rp 1 juta dengan Rp 120 ribu yang diajukan Pak D). Jadi didapatlah 10xRp880ribu = Rp 8,8 juta. Selain itu Pak D akan mendapat uang Rp 1 juta dari Pak Aris yang bulan lalu mendapatkan pinjaman uang (ia menerima kembali uangnya yang pada bulan sebelumnya ia pinjamkan kepada Pak Aris). Jadi Pak D mendapat jatah uang arisan sebesar Rp 9,8 juta.

Nah, meskipun uang yang dibayar oleh anggota lain masing-masing hanya berjumlah Rp 880 ribu, namun Pak D setiap bulannya harus "mengembalikan" Rp 1 juta kepada penerima jatah arisaan selanjutnya. Ini karena Pak D di awal sudah mengajukan penawaran sebesar Rp 120 ribu. Boleh dibilang, Rp 120 ribu ini adalah semacam bunga.

Selanjutnya pada bulan ketiga dilakukan hal yang sama. Namun orang yang sudah mendapat jatah arisan sebelumnya tidak boleh mendapat jatah arisan untuk kedua kalinya. Dengan demikian Pak Aris dan Pak D tidak boleh mendapat jatah arisan lagi.

Jadi pada bulan ketiga, Jika Pak B mengajukan angka Rp 90 ribu, Pak C mengajukan angka Rp 60 ribu, dan Pak E mengajukan angka Rp 85 ribu, maka Pak B-lah yang berhak mendapat jatah arisan pada bulan tersebut. Masing-masing anggota cukup membayar Rp 910 ribu, sehingga Pak B mendapat Rp 9,1 juta untuk iuran bulanan, kemudian juga mendapat Rp 1 juta dari Pak Aris, dan juga Rp 1 juta dari Pak D yang sebelumnya mendapat jatah arisan di bulan pertama dan kedua. Pak B pun mendapatkan Rp 11,1 juta.

Semua anggota pada akhirnya akan mendapat jatah arisan karena orang yang sebelumnya mendapat jatah arisan tidak boleh mendapat jatah arisan untuk bulan berikutnya. Sehingga periode arisan disesuaikan dengan jumlah orang. Karena ada 11 anggota, maka satu siklus arisan akan berjalan selama 11 bulan.


Jadi RANGKUMANNYA: pada bulan pertama, penerima uang adalah Pak Aris (kepala arisan). Untuk setiap bulan berikutnya Pak Aris akan mengembalikan satu juta rupiah hanya kepada penerima jatah bulan itu. Setelah 10 bulan, maka semua anggota akan menerima uangnya kembali yang dulu dipinjam oleh Pak Aris karena semua anggota telah mendapatkan giliran jatah arisan. Jadi, khusus Pak Aris nggak ada "bunga". Dia meminjam Rp 10 juta dan mengembalikan juga Rp 10 juta. Sedangkan untuk bulan-bulan berikutnya seperti Pak D, dia meminjam Rp 8,8 juta dari para anggota lain (sesuai penawaran yang diajukan Pak D) dan harus mengembalikan Rp 10 juta , sehingga ada rugi atau semacam ada "bunga" sebesar Rp 1,2 juta.

Meski tulisan saya rada padet, semoga bisa dipahami ya.. Hihi..


Source of Inspiration: Papa