Showing posts with label Jelajah Melbourne. Show all posts
Showing posts with label Jelajah Melbourne. Show all posts

30/12/2016

Jelajah Melbourne #11 - DAY 03: Ternyata di Melbourne Ada Pasar Tradisional-nya Juga! Ini Dia, "Queen Victoria Market"


Last checkpoint before heading back to reality, eng-ing-eng... 'twas Queen Victoria Market! Sepasang papan glossy berwarna ijo-kereng khas pensil ujian nasional menyambut kami dengan info seputar jam operasi pasar ini (Senin-Rabu tutup; Selasa-Kamis-Jumat mulai jam 6 pagi; sedang Minggu mulai jam 9 pagi). So, dari sini telah nampak ituh deretan stall dagangan yang separuh wujudnya ketutupan mobil para pencari parkir. Rame juga nih pasar.

Tinggg.. aha! Mendadak inget gitu kalau di halaman pasar ada sebuah monumen peringatan untuk seseorang yang bersejarah bernama John Batman (beliau lahir di tahun 1800). Ternyata Batman sudah ada dari jaman neneknya nenek saya. Eeehh, Batman-nya beda yaak sama Bruce Wayne... #upsie #throwbackApr2015


Wuahh.. ternyata pasar ini memang pasar tradisional. Di salah satu bagian pasar, nampak mereka yang menjual bahan makanan sehari-hari seperti daging, buah, dan sayur. Sedangkan di bagian yang lain, nampak pula pedagang yang menjajakan makanan olahan (misalnya jagung manis), serta pakaian, tas, dan aksesoris. Oh ya, itu mas bule penjualnya ada yang ganteng, bonus lesung pipit pula. Lagi nganggur (baca: single) nggak Masss? #sayanganak #dipilihomdipilihtante


Eikk. Ada pedagang kulit binatang asli loh di sini (winter was coming, by the way). Rada syok gitu waktu saya pertama kali lihat kulit berbulu dengan aneka warnanya itu digantung kayak jemuran di langit-langit. Yang mana gara-gara dipajang begitu, kulitnya nggak mungkin nggak kelihatan, alias jadi eksis to the max, membuat semua mata langsung menoleh (bule-bule lokalnya aja pada nengok, apalagi saya yang hanyalah pendatang).


Wiiihh.. ada antrian panjang yang mengulat dan menggeliat. Pssst, ternyata mobil van putih-biru American Doughnut Kitchen inilah pelakunya. Pelaku yang bikin saya ikutan antri juga setelah melihat banyak orang antri di sisi kirinya. Bukan gue namanya kalo nggak kepo. Wuakakak..! Maka tadaaaa... dapat juga 'kann: donat hangat bertabur gula serta donat hangat isi selai yang rasanya bisa dipilih sendiri dari sejumlah pilihan selai yang ada.


Meski jam makan siang belum tiba, akhirnya kami sepakat untuk lunch dulu karena dikejar waktu untuk balikin mobil rental, sehingga nggak sempat setop-setop lagi pas setir balik ke Sydney. Ternyata ada foodcourt yang modern di sini, dengan harga makanan yang relatif murah jika dibandingkan dengan porsi super gedenya. Dimana saat menuju foodcourt, saya ingat melewati sebuah resto yang sedang mengadakan kelas memasak bagi para kurcaci cilik, alias anak-anak kecil yang terlihat antusias dengan topi chef warna-warninya.


Time to go home, kami pun pulang ke Sydney karena waktu libur sudah selesai. Saatnya kembali ngampus dan ngantor. Daaan.. tahu-tahu langit udah gelap aja saat kami setir balik ke Sydney. Senangnya nemu KFC di tengah jalan ketika perut yang maha-kenyang tadi mulai berevolusi jadi maha-lapar (oh whyyy).

Menariknya, KFC yang kami masuki memiliki nama KFC Krush Bar. Not sure apa bedanya sama KFC yang biasa, but hey I'm not picky kokkk, as long as they serve me food, I'll sit down like the nicest kid in the town, he. Dan dinner ini pun menutup seluruh rangkaian road trip kami ke Melbourne. Thanks gais sudah ngikutin kisah ini and see ya soon di Serial Jelajah berikutnya. :)

28/12/2016

Jelajah Melbourne #10 - DAY 02 EVENING: Pergi ke Melbourne Wajib Mampir ke Pantai Ini - "Brighton Beach" dengan Rumah Warna-Warninya!

If there is one place you must visit in Melbourne, pilihannya tak lain tak bukan jatuh kepada... Brighton Beach! So, lepas menjelajahi sekitaran pusat bisnis Melbourne, saatnya ambil mobil di dekat penginapan dan here we go! #omteloletom #brembrem #throwbackApr2015



Aseek.. sudah dekat. Saatnya cari parkir gengs. Ternyata banyak rumah ber-desain unik dan modern yang tampak berkelas nggak jauh dari pantai. Berasa kayak anak kecil yang excited saat cuci mata melihat deretan rumah-rumah mewah ber-eksterior variatif di area Danau Sunter atau Menteng. Ternyata menurut Oom Wikipedia: "Brighton houses some of the wealthiest citizens in Melbourne with grand homes, and the development of large residential blocks of land." Oooh, pantes... interesting fact nih.



Wuaauwww... langsung takjub bahkan saat cuma lihat gundukan pasir yang luas sekali. Keren sangat, dua-rius! Dan nggak cuma di atas pasir aja - ada sejumlah spot bagus lainnya untuk foto, seperti jalan setapak dengan kursi kayu hijau yang bisa banget difungsiin jadi latar foto OOTD. Oh ya, kalau Anda bawa heli gukgukguk, ada aturan bahwa sang dogi tidak boleh dilepas di pantai, tapi harus diikat di jam 10.00 - 19.30 pada tanggal tertentu. Turut sedih untuk pemiliknya, tapi buat hooman yang jantungnya cenat-cenut nggak karuan saat bertatapan sama anjing dari jarak 2 meter seperti saya, it's kinda relieving. He.



Woh-woh-woh! Took me a moment to dive into the moment (pun intended, lol), but I was really there, wasn't I? Di depan 82 beach bathing boxes berbentuk rumah (yang berbentuk persis kayak bentuk rumah yang suka saya gambar karena saya nggak jago gambar, ha) yang berjajar cantik dengan warna-warninya, looking so catchy like beautiful candies!

Beberapa di-cat dengan gambar kartun (ombak laut, kangguru, bahkan kepiting), sedangkan sejumlah lainnya di-cat mirip warna dan motif bendera (Belanda, Ukraina, dan... Aussie!). Matahari plis jangan terbenam dulu. Biarkan kami ambil unlimited selfies, wefies dan... pokonya fotooo centil sampai lelah!



Setelah jempol ini nggak ada tenaga lagi buat pencet tombol kamera, kami yang kehabisan ide pose dan bewajah kelaparan ini, tiba-tiba kangen masakan mama di rumah dan bergegas cari resto sebelum kelihatan tambah ngenes. Nggak salah masuk ke Kanpai di Chapel Street, karena masakannya wuenank pol, ditambah lagi service-nya ramah kali. Te-o-pe-be-ge-te kalau kata anak '90-an.



Lepas dinner, kami mengademkan diri pakai angin cepoi-cepoi sambil jalan kaki di sepanjang Yarra River. Dengan background Southgate Pedestrian Bridge yang membusur indah dan gedung-gedung metropolitan yang kelap-kelip lampunya bertaburan menghiasi angkasa, kami pun nggak melewatkan kesempatan untuk memulai kembali sesi narsis kami. Suasananya santai sekali, deh!

Di sepanjang jalan ini ada orang yang membuat fun games dengan hadiah uang, seniman jalanan yang jago paint brush, dan yang nggak kalah menarik yaitu adanya restoran di dalam kereta: The Colonial Tramcar Restaurant. Menurut review para netizen, resto ini recommended pisan loh, meski akhirnya kami cuma memandang dari luar, secara resto ini masuk kategori fine dining (baca: mahaaal) dan kurang bulet apalagi perut ini.



Di Yarra River tadi, salah seorang dari kami bertemu dengan seorang teman yang menemani kami berkeliling. Ia pun membawa kami ke Curtin House untuk nongki di atapnya, yakni Rooftop Art Space. Tempat outdoor ini dilapisi dengan rumput buatan, punya kapasitas yang cukup luas dengan meja berpayungnya, jual makanan dan minuman, menawarkan night view yang ciamik, serta dilengkapi dengan layar besar. Asiklah buat kongkow dan nobar pas ada pertandingan bola.



Ternyata kami lapar lagi dan temannya teman saya membawa kami makan ke satu tempat bernama Stalactites, untuk take away Souvlaki, semacam sate khas Yunani yang oleh resto ini disajikan dalam roti Pita. Saya pun sharing berdua teman, memesan satu Mixed Souvlaki yang berisi campuran daging domba dan ayam. Slurrppp... ~lezat sekali!! Demikianlah malam terakhir kami di Melbourne ditutup dengan makanan. Muahaha!

17/12/2016

Jelajah Melbourne #9 - DAY 02 MORNING: Ada Apa Saja di CBD Melbourne? Keliling Setengah Hari Yuk!

Pagi, pagi, selamat pagi! Langsung nyengir kuda nil begitu melek dan sadar kalau diri ini ada di Melbie. Aseeek... setelah wangi-mewangi hasil antri kamar mandi dengan sesama penghuni hostel dan tak lupa BB-cream-an secukupnya, kami pun mulai jalan keliling Melbourne. #throwbackApr2015



Eits, di meja resepsionis hostel ada brosur tur gratis Melbie dengan jalan kaki selama 2,5-3 jam dipandu oleh tour guide lokal. Tur ini ada tiap hari loh, baik saat hujan maupun hari cerah, dan ada 2 shift. Sesi pertama pk 10.30 pagi dan sesi kedua dimulai pk 14.30 siang. Turis cukup pergi ke Sir Redmond Barry Statue di depan State Libary dan mencari pemandu berbaju hijau cerah.

Tak perlu daftar dulu, Anda tinggal datang ke sana. Fyi, "I'm Free Tour" ini di antaranya meng-kaver: (1) Street Art; (2) Federation Square; (3) Free Things to Do; (4) Outlaw Ned Kelly; (5) Flinders St Station; (6) Yarra River; (7) Princess' Theatre; (8) Melbourne Laneways; (9) Melbourne's Underworld; (10) Melbourne's Arcades; (11) State Library of Victoria; (12) Old Melbourne Gaol; (13) Indigenous History; (14) Royal Exhibition Building; (15) Eureka; (16) Batman; (17) Chinatown; dan lainnya.



Tapi biar santai akhirnya kami putuskan mau otodidak saja, alias mengandalkan peta online dan naluri tanya orang untuk berkelana keliling kota. Perjalanan dimulai dengan naik tram kecil yang lewat di tengah jalan di dekat hostel dengan memakai kartu pra-bayar MYKI yang dikeluarkan oleh PTV (Public Transport Victoria). Tram-nya sepi sehingga kami langsung dapat kursi dan yang penting, nggak begitu malu untuk bernasis ria di dalam tram, wuakakak...



Kalau di Macau ada situs Ruins of St. Paul yang ikonik ituh di penghujung Senado Square, jrenggg... kalau di Melbourne ada St. Paul's Cathedral yang berdiri megah di Federation Square dengan arsitektur eksteriornya yang sangat khas Eropa dan tampak indah.



Sebelum nyeb'rang ke sana gengs, kita lanjut jalan dulu ke Degraves Street. Wajib banget ambil foto dan video di tengah jalan yang bentuknya kayak lorong ini. Spot yang tampak keren di kamera, apalagi karena di kiri-kanannya ada aneka ruko yang menarik, termasuk deretan meja berpayung. Psstt.. kami bikin video pendek loh di lorong ini. Salah satu toko yang saya ingat ialah toko aksesoris "Sine Qua Non" dimana nama tokonya ternyata adalah kata benda dalam bahasa Latin yang sering muncul dalam kalimat Inggris dengan makna "sesuatu hal yang sangat penting dan mutlak dibutuhkan", #belajarvocab.

Juga sebuah toko bernama "The Soup Place" yang memajang aneka sup hangat dalam 9 pot berwana hitam. Kerennya nih, toko ini punya proyek pay-it-forward dimana pelanggan bisa sumbang uang lebih sebesar $3.50 dan meninggalkan pesan di post-it untuk ditukar dengan semangkuk sup oleh siapapun tunawisma yang lapar dan perlu makanan (harga normal $7.50).



Kami yang belum sarapan pagi pun masuk ke kafe "Perkup Burgers" yang meski luasnya kecil tapi cantik dan cozy. Guess what, salah satu menunya adalah burger kangguru (outback burger) yang jadi pesanan saya hari itu meski agak nggak tega makannya, #ihik, dimana (seingat saya) rasanya mirip tapi nggak se-strong kambing. Btw, mereka punya mesin kopi yang tampak imut dengan warna soft pink-nya. Dan juga sebuah papan berisi quote keren tentang semangat untuk "give it your all".



Pose wajib berikutnya adalah di depan Flinders Street Railway Station. Gedung warna kuning di persimpangan jalan yang nggak mungkin nggak kelihatan ini hampir selalu masuk ke checklist-nya para turis Melbourne. Di area ini ada juga sepeda biru Melbourne yang bisa Anda sewa (pakai mesin self-service) dengan kartu kredit seharga $2.90 untuk 30 menit pertama dan tambahan fee tertentu untuk jam pemakaian berikutnya. Ada pula patung Captain Matthew Flinders yang namanya dijadikan nama jalan tempat kami berada sekarang.



Daaaan... ternyata McDonald's kalau di Melbourne disebut Macca's. Betul-betul tertulis "Macca's" looh di plangnya.



Balik lagi ke Federation Square, dan tiba-tiba sudah ada kerumunan orang yang tidak terlihat tadi pagi. Wuah, ternyata ada street performance di tengah square ini yang menyedot perhatian dan gelak tawa banyak orang. Setelah nonton sebentar, kami bergegas ke Melbourne Visitor Centre untuk cari opsi mau kemana lagi setelah ini. Ternyata Centre yang terletak di bawah tanah ini lengkap juga untuk bantu-bantu turis cari ide: ada brosur aneka tempat wisata di Melbourne, layar interaktif, petugas yang bisa ditanya-tanya, dan juga toko oleh-oleh.



Kami sekarang ada di pusat belanja "The Block Arcade". Di sini akhirnya saya melihat pemandu tur gratis "I'm Free Tour" yang nggak jadi kami ikuti dan lagi sibuk nungguin grup turisnya selfie cantik dengan latar langit-langit dan lantai catur keren di Arcade ini.

Ada juga timbangan berat badan bersejarah (Victorian Scale No. 228) yang berusia 130+ tahun (dibuat pada tahun 1880 di Inggris). Juga ada satu toko kue yang antriannya mengular-naga-panjangnya-bukan-kepalang bernama "Hopetoun Tea Rooms" (kayak antrian BreadTalk pas baru buka dulu) yang tampak mewah dari luar.



Lepas tu, grup kami terpecah jadi dua, ada yang mau belanja pakaian di toko-toko ritel sekitar Melbourne Central karena sedang banyak sales, ada juga yang mau sightseeing putar-putar. Karena nggak hobi belanja baju, saya pun ikut kelompok yang kedua. Menyenangkan aja jalan kaki lihat-lihat sekeliling jalan: ada yang gedungnya tradisional, ada yang modern, ada juga sekumpulan senior citizen yang sedang berdemo di tepi jalan (wuah.. baru lihat para lansia jadi peserta demo).

Sempat juga melewati China Town, dimana di sini kami masuk ke supermarket Oriental "Laguna" yang ada produk Indonya dan ke toko sepatu keds yang display-nya nampak futuristik.



To close the first half of the day, saya diajak teman minum kopi di Brother Baba Budan yang dapat review bagus di dunia maya. Ternyata baik kopi maupun tempatnya memang enjoyable. Ramai banget antriannya, tapi kami masih dapat kursi. Dekornya unik meski agak pusing lihatnya, lol, yaitu kursi-kursi yang digantung di langit-langit.

Teman saya yang hobi minum flat white selama di Aussie dan saya yang suka cappuccino serta seorang lagi yang saya lupa pesan apa, hehe, kami bertiga menikmati santainya suasana kafe ini di balik seruputan kopi sambil menunggu grup yang lain selesai belanja. Itung-itung ngelurusin kaki yang udah pegal sebelum sore nanti lanjut lagi ke Brighton Beach:) Coffee is the sine qua non of my sanity. Lol, berguna kan belajar vocabulary baru di atas tadi..

19/11/2016

Jelajah Melbourne #8 - DAY 01: Akhirnya Sampai Juga! Nge-GyuTanDon di Menya + Jalan Cepat di CBD + (Mencoba) Tidur di Hostel Backpacker

Akhirnya sampai juga 10 jari badan ini di postingan tentang Melbourne! 3 hari 2 malam yang kami habiskan di kota terpadat kedua se-Aussie ini akan saya bagi ke dalam tiga bagian cerita saja, biar nggak kepanjangan karena saya sudah lelah dan perlu move on ke artikel berikutnya. For now, please enjoy part one-nya below :) #throwbackApr2015 #itsalwaysahappyday



Destinasi #1: Makaaaan, saya laparrrr... Sudah sampai Melbie, wajib banget mampir ke Menya yang pas saya ke sana lagi booming banget karena Gyu Tan Don-nya. Memang ramai sekali tempatnya, tapi horeee... masih dapat tempat karena kapasitasnya juga besar. Pas baca sign-nya baru 'ngeh kalau Menya adalah bahasa Jepang dari "面屋" atau "Miàn Wū" yang artinya Ramen House. Oh yaaa.. sempet nemu snek yang kembar abis sama Nyam-nyam, tapi namanya Yan-yan. Lol.



Akkkh.. datang juga Gyu Tan Don yang dinanti :) Tapi ups, ogut sebenernya lupa waktu itu pesen Gyu Tan Don atau pesen ramen. #jedukinjidat #odongmodeon. Eniwei, senang deh, nggak lama setelah balik ke Jakarta, Gyu Tan Don mulai naik pamor di J-Town ini, jadi bisa nyicip pas lagi pengen. Contohlah waktu Negiya Donburi baru buka di Citywalk, antriannya panjang maksimal tiap jem makan siang, ~untung ada Pasukan Ijo (a.k.a Bang Ojek Online). Sedih aja harganya berat di kantong, jadi nggak bisa sering-sering. Nasi putih berselimutkan lidah sapi ini memang enyaaak...



Destinasi #2: Karena kami sampai di Melbourne ketika matahari lagi kunker ke belahan bumi tetangga, opsi wisata yang bisa disambangi di hari pertama ini jadi terbatas. Jadilah kami jalan ngasal di sekitar CBD (Elizabeth St, dkk). Yang saya masih ingat, salah satunya kami sempat melewati Harley Heaven, yang adalah dealer dari Harley Davidson (+ jualan aksesoris khas anak Harley gitu).



Lalu sempat juga mampir iseng ke supermarket Asia gitu. Banyak snek lucu buat cuci mulut mata, seperti biskuit Anpan-Man, mie garing Popeye, mini donut beraneka rasa, mochi green tea dengan choco filing (ngilerrr...), dan mini BungoPpang asal Korea yang iconic itu.



Destinasi #3: Saatnya check-in. Kamar saya penuh bule dan berisi + 5 bunk bed 2 tingkat & 1 kamar mandi. Kaget juga ternyata ada anak muda yang stay di situ sehari-harinya karena harganya murah (salut buat perjuangan hidupnya). Ada juga yang se-ranjang sempil-sempilan dipakai 2 turis saking mau hemat. Meski sekamar sama banyak orang asing rasanya nano-nano dan kurang comfy, kamar saya masih okelah. Salah seorang teman saya dapat kamar lain dan susah tidur karena sesama penghuninya kurang bersahabat - alias berisik (dan bau, lol) sampai akhirnya nyerah dan upgrade tipe kamar. Pengalaman backpacker-an yang nggak terlupakan deh.

07/11/2016

Jelajah Melbourne #7 - Pre-Arrival: Wuoh. Nge-Road-Trip Asik ke Melbourne via Jalan Tol!

I promised... pokonya ini udah bagian terakhir dari cerita saya sebelum sampe di Melbourne. Yepp, sebelum sampe. Wuakakak!! Sabar yak pemirsa, aku mah gitu orangnya, bawelnya nongol kalau lagi nyoret-nyoret gini. Kudos to you gaes yang masih survive ngikutin curcolan saya ini. #latepost #throwbackApr2015



Nggak sia-sia broh, rental mobil yang punya sunroof. Bikin roadtrip kami via National Highway M31 (Hume Freeway) ini makin seru karena sesekali bisa ngejemur jempol di bawah sinar mentari, sambil nyanyi-nyanyi riang hasil nge-bluetooth stok lagu unlimited dari hengpon temen. Current mood: bersinar cerah.



Banyak rumput kering di kiri-kanan jalan karena waktu itu mulai masuk winter. Even so, masih ada pohon-pohon warna ijo army di antara mereka. Suka banget sama langit biru-putih yang serasa tak berjarak sama diri ini. Oh yaaa, ada kilometer tertentu di bagian tol ini yang nice to meet you banget view-nya... berasa macem lagi safarian di Afrika!



Anyway jalan tolnya sepi parah.. Masih ada sih 1-2 mobil (dan 1-2 kangguru) yang lewat, tapi overall dikit banget. Mungkin most people prefer naik pesawat ke Melbie vs setir mobil sendiri, secara waktu tempuhnya jauh banget kalau dibandingin. Saking sepinya, bisa kali yak turun di tengah tol buat pose ala-ala Beatles. Atau baringan di rerumputan coklet ituh sambil tereak manja "I feel freee... bunga-bungaaa..." ala-ala Incess Syahrini.



2 hal super penting yang syukurnya masih ada meskipun langka, di tengah jalan tol yang sepi ini: POM BENSIN dan ...



... TOILET! Fyuuh, untung ada toilet meskipun ala kadarnya (banget), tapi lumayanlah daripada nggak ada sama sekali.



Di tengah jalan, kami mampir dulu ke kota Albury, yang ternyata masih masuk dalam wilayah New South Wales. Sekilas keliling, saya bisa rasakan kota ini juga nggak begitu ramai, sama seperti Canberra. Ntah apakah lazimnya demikian, atau karena hari itu Minggu - sehingga penghuninya hibernasi nasional?



Misi utama di Albury: cari mamam siang + ngerentekin tulang. Kami akhirnya pilih sebuah street cafe bernama The Coffee Club, dimana salah satu rangkaian menunya bertemakan pizza yang mereka sebut sebagai "Crispizzas". Asoyyy: PIZZA everybodeeeh, yang sesuai namanya terasa cripsy and on top of that, a super yummy one!



Kafe yang punya tagline imut "Where will I meet you?" ini juga menyajikan aneka cakes dan cookies yang looks-nya minta dikunyah banget.



Oh yaaa.. ada suatu hal yang cukup berkesan saya temukan saat mampir ke Albury. Yakni keran ini yang disampingnya berdiri sebuah papan sign formal bertuliskan "Non-Drinking Water", tapi interestingly ada papan satunya lagi...



... yakni yang nemplok di tembok persis di belakang kerannya dengan tulisan agar kita jangan percaya pada papan "Non-Drinking Water" itu. Orang yang menaruh tulisan itu berkata bahwa dia sudah bertahun-tahun pakai air dari keran tersebut loh. Hmmm, mana yang betul yah? Ada-ada aja :)

23/10/2016

Jelajah Melbourne #6 - Pre-Arrival: Numpang Lewat Canberra (yang Ternyata Sepi Sekaliii!)


Glek. Tengah malem. Di tengah gunung. Super gelap. Sinyal internet ilang. Nyaris nggak ada tanda-tanda kehidupan kecuali kangguru yang tiba-tiba bikin syok nyelonong di depan mobil. Meski nggak sendirian paniknya karena di dalam mobil ada 6 orang, hati ini tetap bertanya-tanya masihkah besok aku dapat melihat matahari. Ngeri-ngeri sedap pengalaman malam itu. #throwbackApr2015


Fyuuuh, setelah entah berapa jam mengikuti jalur penuh debu itu, praise the Lord, we made it safely to Canberra from Hyams Beach!! Astagaaaaa... emosional sekali perasaan ini. Terharu, plonggg, bahagia. Hiksss... pikiran sempat melancong kemana-mana kalau nama kita berenam besoknya bakal muncul jadi headline karena kesasar di tengah highway di gunung antah berantah itu. Ternyata itu jalur yang benar, tapi horor abis kalau perginya tengah malam.


Karena waktu sudah pagi buta, langsung deh kami meluncur ke penginapan yang telah dipesan di muka: YHA Australia.


Well... idenya bisaan aja. Nggak kurang menohok lagi: sepeda yang digantung di langit-langit untuk menunjukkan kalau hostel ini menawarkan jasa sewa sepeda.


Langsung check-in ke kamar kami yang berpintu merah ini.


Dan karena ini adalah budget accommodation, jadi bentuk tempat tidurnya adalah bunk bed. Sempet nggak enak gitu sama sesama traveler yang lagi tidur dan terbangun karena kami masuk. Padahal udah berubah wujud jadi balerina yang jago jinjit-jinjit, ples pake bisik-bisik, tapi tetep bising karena bunyi plastik dan selorotan resleting.

Yaa, maklumin aja ya kaka bulee... kami cuma manusia biasa yang butuh siraman air kamar mandi karena udah lepek, lengket, dan bau gara-gara keujanan di Kiama Blowhole dan lelarian di Hyams Beach. Anggap aja ya kak ini resiko pesan shared room, apalagi kalau kakak nggak bisa jurus tidur hibernasi kayak saya. Pisss kaka.. :)


Bangun pagi (pagi itu daylight saving berakhir, jadi horeee, ada tambahan 1 jam buat bobo karena waktu di aussie mundur 1 jam) dan nyempetin keliling sebentar ke area dekat hotel, sebelum cabut ke destinasi kami yang sesungguhnya: Melbourne. Wuauw, emang kota ini sepi sekali. Heran deh lihatnya, kota se-modern ini, dengan bangunan-bangunan khas perkotaan tapi manusianya dikit gitu...


Tembok hipster yang juga eksis membuat beberapa sudut telihat lebih berseni. Toko-toko yang ada di sini belum ada yang buka... jadi kami coba putar lagi demi mengisi perut dengan segenggam harapan, eh, sarapan pagi.


Eitsss... banyak patung yang nyeleneh di area street shopping ini...


Air mancur yang bentuknya nggak biasa.


Yeiii, ternyata ada mall di dekat tempat kami nginap. Dan fastfood selalu jadi opsi yang okeh untuk mengisi bahan bakar. Lumayanlah ada kopi dan burger di McD yang asik dilahap sebelum kami melanjutkan trip ini. Segarnyaa setelah makan, sampai lupa pengalaman yang bikin cenat-cenut semalam itu. Haha!